- Bahlil Tunda Kenaikan Tarif Royalti Tambang Emas Cs
- Tata Kelola Anggaran Terbaik, SKK Migas Raih “Jawara Of The Year 2025”
- SKK Migas : Sumur Baru PHR Zona 4 Hasilkan 3.073 Barel
- Vokasi PHR Bawa Dua Pemuda Riau Tembus Industri Migas
- Pertamina Patra Niaga Sumbagut Bersama DPR RI dan BPH Migas Tinjau SPBU di Riau
- Stok BBM Riau Aman, Antrean Kendaraan Berangsur Normal
- Enam Kandidat Lolos Seleksi Direksi BUMD Riau PT Riau Petroleum, Ini Daftarnya
- Jaga Stabilitas Pasokan Energi Domestik, Menteri Bahlil Kawal Diplomasi Energi dengan Rusia
- Ekspor Riau Menguat Ditopang Lemak dan Minyak Nabati
- Pemerintah Tawarkan 10 Area Potensi Blok Migas Baru Hasil Studi Terbaru
Pertamina Diperkirakan Butuh Hingga Rp168 Triliun untuk Bangun RDMP Kilang Dumai
Kebakaran kilang Dumai pada 1 Oktober 2025
Berita Populer
- Daftar Lengkap Jurusan yang Dibutuhkan TNI Terkait Rekrutmen Calon Perwira Prajurit Karir 2018
- Ikan Asin Bukan Makanan Orang Miskin
- Masalah Pribadi Jadi Alasan Siswa SMP di Pekanbaru Sayat Tangan, Bukan karena Minuman Energi
- Satu Situs KPU Kampar Diduga Diretas, Satu Lainnya Tidak Bisa Diakses
- Polisi Dumai Sita 5 Butir Ekstasi dari Kotak Rokok dan Ciduk Dua Pelaku
Berita Terkait
- Masyarakat di Sepanjang Aliran Sungai Kampar Harus Waspada, Sore Ini Pintu Pelimpahan Dibuka 80 Cm L0
- Terbukti Melakukan Korupsi Tiga Terdakwa Divonis 4 Tahun Penjara0
- Antisipasi Banjir di Bangkinang, Pemkab Kampar Akan Tambah Jalur Pembuangan Air0
- Harga Sembako di Tembilahan Normal Jelang Natal dan Tahun Baru 2019, Ini Daftarnya0
- Hasil SKD CPNS Kota Dumai 2018 Resmi Diumumkan Pemko Dumai Melalui Link Ini0
MIGASNEWS.CO, JAKARTA — PT Pertamina (Persero) diperkirakan membutuhkan investasi sekitar US$7 hingga US$10 miliar atau setara Rp118,13 triliun hingga Rp168,75 triliun untuk membangun proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) di Kilang Dumai, Riau.
Perkiraan tersebut disampaikan praktisi senior industri migas, Hadi Ismoyo. Ia menilai, jika RDMP Kilang Dumai mengacu pada peningkatan kapasitas sebesar 100.000 barel per hari seperti proyek RDMP Balikpapan, maka nilai investasinya bisa mencapai angka tersebut.
“Dengan asumsi peningkatan kapasitas 100.000 barel per hari seperti di Balikpapan, biaya investasi RDMP Dumai bisa berkisar US$7 sampai US$10 miliar, tergantung kompleksitas kilang dan jenis produk yang dihasilkan,” ujar Hadi saat dihubungi, Rabu (14/1) dikutip dari bloombergtechnoz.com.
Hadi yang juga menjabat Direktur Utama PT Petrogas Jatim Utama Cendana menilai proyek kilang memiliki tantangan besar dari sisi keekonomian. Menurutnya, tingkat pengembalian investasi (internal rate of return/IRR) proyek kilang relatif kecil, sementara kebutuhan modalnya sangat besar.
Di sisi lain, ia juga menyoroti tren global sektor energi yang secara bertahap bergerak menuju energi baru dan terbarukan (EBT) dalam jangka panjang, seiring target transisi energi hingga 2060.
Atas dasar tersebut, Hadi mendorong agar proyek RDMP Kilang Dumai tidak sepenuhnya mengandalkan anggaran negara, melainkan melibatkan partisipasi investor swasta guna berbagi risiko pendanaan.
“Dalam konteks sharing risk, kolaborasi dengan swasta akan jauh lebih baik. Tentu dengan skema dan syarat kerja sama yang menarik agar investor swasta bersedia masuk,” jelasnya.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia telah menyatakan bahwa Pertamina akan menggandeng investor swasta untuk menggarap proyek RDMP Kilang Dumai. Pernyataan tersebut disampaikan setelah peresmian proyek RDMP Balikpapan di Kalimantan Timur.
“Kita akan mengembangkan RDMP lain seperti di Dumai, termasuk peningkatan kapasitas dan fasilitas penyimpanan,” ujar Bahlil kepada awak media di Balikpapan, Senin (12/1).
Menurut Bahlil, skema kemitraan tersebut diharapkan memberi manfaat bagi semua pihak, baik Pertamina, negara, maupun investor swasta.
“Pertamina dapat untung, negara memiliki ketahanan energi, dan swasta juga mendapatkan kerja sama yang saling menguntungkan,” katanya.
Saat ini, Kilang Dumai dikelola oleh PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), anak usaha Pertamina. Kilang tersebut memiliki kapasitas pengolahan sekitar 170.000 barel per hari dengan Nelson Complexity Index (NCI) sebesar 7,6.
Produk yang dihasilkan Kilang Dumai meliputi Pertalite, Pertamax, Solar, Pertadex, Avtur, Marine Fuel Oil Low Sulfur (MFO LS), hingga Green Coke.
Sebagai perbandingan, proyek RDMP Balikpapan yang baru saja diresmikan Presiden Prabowo Subianto pada 12 Januari 2026 menelan investasi sekitar Rp123 triliun. Proyek tersebut meningkatkan kapasitas pengolahan kilang dari 260.000 barel per hari menjadi 360.000 barel per hari, sekaligus menambah produksi LPG, propylene, dan sulfur.
“Saya bangga hari ini kita melangkah menuju kemandirian energi dan berdiri di atas kaki kita sendiri,” ujar Presiden Prabowo saat peresmian RDMP Balikpapan. (mm)
