- Pemerintah Sesuaikan Lagi Harga BBM, Harga Pertamax di Riau Turun Jadi Rp16.650 per Liter
- Gelar Pertandingan Olahraga, PWI Riau Perkuat Sinergi dengan SKK Migas Sumbagut dan EMP Bentu
- Berkah PHR Dampingi UMKM, Produk Koperasi Pucuk Rebung Tembus Pasar Internasional
- Tampil di Forum Seskoau, Bupati Afni Uraikan Peran Strategis Siak Bagi Ketahanan Energi Nasional
- Semester I/2026, Pertamina Hulu Energi Produksi Minyak dan Gas 935.000 Barel Per Hari
- Pemprov Jambi Tunggu Izin 4 BUMD Kelola Sumur Minyak Masyarakat
- 700 Kilang Minyak Ilegal 6 Wilayah, Berpotensi jadi Ancaman Serius Lifting Nasional
- Kuatkan Literasi Pendidikan, Pertamina EP Lirik Field Dirikan Rumah Baca Lilac di Inhu
- Ekonom Unri Kaji Soal PI Migas 10%, Dahlan: Dana Itu Bukan ‘’Amplop’’ yang Dibagi-bagi
- Permintaan Meningkat 20 Persen, Pertamina Tambah Pasokan Biosolar di Riau
Akan Bebedar BBM Jenis Baru B-50 pada 1 Juli, GAPKI Pastikan Stok CPO Aman
Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono
Berita Populer
- Daftar Lengkap Jurusan yang Dibutuhkan TNI Terkait Rekrutmen Calon Perwira Prajurit Karir 2018
- Ikan Asin Bukan Makanan Orang Miskin
- Masalah Pribadi Jadi Alasan Siswa SMP di Pekanbaru Sayat Tangan, Bukan karena Minuman Energi
- Satu Situs KPU Kampar Diduga Diretas, Satu Lainnya Tidak Bisa Diakses
- Polisi Dumai Sita 5 Butir Ekstasi dari Kotak Rokok dan Ciduk Dua Pelaku
Berita Terkait
- Atraksi Silat di Siak Sambut Kedatangan Rombongan Pertukaran Pemuda Indonesia-Australia0
- PN Bengkalis Surati Kejagung karena Tuntutan Tiga Terdakwa 55 Kg Sabu Tak Juga Dibacakan0
- Polisi Masih Selidiki Kasus Temuan Mayat di Perairan Bengkalis0
- Imbau Peserta Ujian SKB Lihat Portal Web, BKPSDM Inhil: 13 Peserta Belum Daftar Ulang0
- Proses Perawatan, Sabtu Jaringan Operasi Gas Jargas Dihentikan Sementara0
MIGASNEWS.CO, JAKARTA – Menjelang peluncuran BBM jenis baru B-50, beberapa keraguan muncul akan terjadi kelangkaan minyak sawit. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) memastikan ketersediaan bahan baku minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) untuk mendukung implementasi mandatori biodiesel B50 yang mulai berlaku pada 1 Juli 2026 dalam kondisi aman.
Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono, mengatakan, untuk tahap awal implementasi B50 pada Juli hingga akhir tahun 2026, industri sawit nasional tidak akan menghadapi kendala pasokan bahan baku.
"Untuk implementasi Juli tidak ada masalah karena bahan baku mencukupi," kata Eddy kepada media, Senin (29/6/2026).
Menurutnya, produksi CPO nasional pada semester I tahun 2026 diperkirakan mencapai sekitar 26 juta ton. Jumlah tersebut dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan domestik, termasuk tambahan kebutuhan untuk program B50.
Eddy menjelaskan, penerapan B50 hingga Desember 2026 diperkirakan membutuhkan tambahan bahan baku CPO sekitar 1,74 juta ton. Dengan proyeksi produksi yang ada, kebutuhan tersebut masih dapat dipenuhi tanpa mengganggu pasokan untuk sektor lainnya.
"Semester I diperkirakan produksi CPO sekitar 26 juta ton. Untuk produksi B50 hingga Desember 2026, kebutuhan bahan baku CPO sekitar 1,74 juta ton," ujarnya.
Implementasi B50 diperkirakan akan meningkatkan konsumsi domestik minyak sawit sekaligus mengurangi volume ekspor CPO Indonesia pada semester II 2026. Namun, GAPKI menilai kondisi tersebut masih dalam batas yang wajar mengingat produksi nasional yang tetap terjaga.
Selain memperkuat ketahanan energi nasional, program B50 juga diproyeksikan mampu mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar fosil. Pemerintah bahkan memperkirakan kebijakan ini dapat menghemat devisa negara hingga ratusan triliun rupiah setiap tahunnya.
Meski optimistis terhadap implementasi B50, GAPKI mengingatkan pentingnya menjaga keberlanjutan produksi sawit nasional. Salah satunya melalui percepatan program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) guna meningkatkan produktivitas kebun petani.
Dengan pasokan bahan baku yang dinilai aman, industri sawit nasional diyakini siap mendukung penuh implementasi B50 sebagai langkah strategis menuju kemandirian energi sekaligus memperkuat hilirisasi sawit di dalam negeri. (FSY/SP)





