Pekanbaru, Riau

Lindungi Ekosistem Esensial, Unri dan Walhi Satukan Perspeksi Kawal Transisi Energi Berkeadilan

Prov. Riau Sabtu, 22 Agustus 2026 - 11:34 WIB
Lindungi Ekosistem Esensial, Unri dan Walhi Satukan Perspeksi Kawal Transisi Energi Berkeadilan

Pandangan itu mengemuka dalam diskusi “Transisi Energi Berkeadilan: Melindungi Ekosistem Esensial” yang digelar Universitas Riau (Unri) bersama Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), Jumat (21/8/2026).

MIGASNEWS.CO, PEKANBARU - Upaya menuju transisi energi dinilai tidak cukup hanya berbicara tentang perubahan sumber energi, tetapi juga harus memastikan keberlanjutan ekosistem dan kepentingan masyarakat tetap terlindungi.

Pandangan itu mengemuka dalam diskusi “Transisi Energi Berkeadilan: Melindungi Ekosistem Esensial” yang digelar Universitas Riau (Unri) bersama Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), Jumat (21/8/2026).

Diskusi yang berlangsung di Gedung Auditorium Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Unri tersebut menjadi bagian dari rangkaian Pekan Rakyat Lingkungan Hidup 2026 bertema “Gerakan Pulihkan Indonesia untuk Keadilan Ekologis”.

Forum ini mempertemukan kalangan akademisi, organisasi masyarakat, komunitas, serta berbagai pihak untuk membahas tantangan transisi energi sekaligus dampaknya terhadap lingkungan. Perlindungan terhadap ekosistem esensial menjadi salah satu perhatian utama dalam pembahasan.

Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerja Sama, dan Sistem Informasi Unri, Dr. Ir. Sofyan Husein Siregar, M.Phil., mengatakan perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan ruang dialog yang mempertemukan beragam perspektif mengenai persoalan strategis.

“Atas nama pimpinan Unri, kami menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini dan kerja sama yang terbangun antara WALHI dan Unri. Universitas bukan hanya tempat untuk menyampaikan pengetahuan, tetapi juga harus menjadi ruang kritis dan ruang kolaborasi untuk membicarakan berbagai persoalan strategis yang dihadapi masyarakat,” ujar Sofyan.

Menurutnya, transisi energi berkeadilan merupakan isu kompleks yang tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak. Karena itu, diperlukan keterlibatan perguruan tinggi, pemerintah, masyarakat sipil, komunitas, dan pemangku kepentingan lainnya.

Unri, kata Sofyan, dapat berkontribusi melalui riset, kajian akademik, serta penyediaan perspektif berbasis ilmu pengetahuan. Di saat yang sama, kampus perlu membuka ruang komunikasi dengan masyarakat dan organisasi yang bergerak di bidang lingkungan.

“Ruang akademik harus tetap menjadi ruang yang memungkinkan berbagai perspektif bertemu. Perbedaan pandangan bukan untuk dipertentangkan, tetapi menjadi bagian dari proses menemukan solusi yang lebih baik,” katanya.

Ia berharap kolaborasi Unri dan Walhi tidak berhenti pada forum diskusi, tetapi dapat memperkuat peran perguruan tinggi dalam merespons persoalan lingkungan. Khususnya, dalam memastikan agenda transisi energi berjalan beriringan dengan upaya menjaga ekosistem esensial.

 “Kolaborasi antara Unri dan Walhi diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat kontribusi perguruan tinggi dalam merespons persoalan lingkungan, khususnya isu transisi energi dan perlindungan ekosistem esensial,” pungkasnya. (HFS/SP)