- Harus Bisa Buat Sejahtera dan Atasi Kemiskinan, FITRA-FISIP Unri Soroti Pengelolaan PI Migas Riau
- Kerugian Capai Rp64 Miliar, Kejati Riau Dalami Putusan Kasus PI 10 Persen Migas di Riau
- Terkontaminasi Minyak di WK Rokan, Pertamina Hulu Rokan Percepat Pemulihan Tanah
- Perusahaan Gas Negara Area Pekanbaru Kembali Gelar Donor Darah
- Harga Minyak Naik 1,44 Persen Akibat Iran Belum Mau Buka Selat Hormuz
- Paripurna Hari Jadi Riau ke-69 Digelar DPRD Riau, Beri Tanda Jasa dan Berbagai Harapan Disampaikan
- Hari Jadi Riau Khidmat, Plt Gubri: Tekanan Fiskal Dirasakan Seluruh Indonesia, Termasuk Riau
- Menjaga Marwah Energi Riau, Refleksi Dua Dekade Alih Kelola Blok CPP
- Penuh Kebahagian, Plt Gubri Lepas 11 Penerima Umrah Program CSR PT Riau Petroleum dan BRK Syariah
- Perkembangan Terbaru, Tiga Sumur Baru PHR Zona 4 Buktikan Lapangan Tua Masih Produktif
Harus Bisa Buat Sejahtera dan Atasi Kemiskinan, FITRA-FISIP Unri Soroti Pengelolaan PI Migas Riau
Riau sebagai salah satu daerah penghasil migas terbesar di Indonesia memiliki potensi ekonomi yang besar. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya berdampak terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat di daerah penghasil.
Berita Populer
- Daftar Lengkap Jurusan yang Dibutuhkan TNI Terkait Rekrutmen Calon Perwira Prajurit Karir 2018
- Ikan Asin Bukan Makanan Orang Miskin
- Masalah Pribadi Jadi Alasan Siswa SMP di Pekanbaru Sayat Tangan, Bukan karena Minuman Energi
- Satu Situs KPU Kampar Diduga Diretas, Satu Lainnya Tidak Bisa Diakses
- Polisi Dumai Sita 5 Butir Ekstasi dari Kotak Rokok dan Ciduk Dua Pelaku
Berita Terkait
- Tinggi Buka Pintu Pelimpah PLTA Koto Panjang Kembali Dibuka karena Elevasi Air Waduk di Atas Normal0
- Polisi Rohul Tembak Terduga Pelaku Pembunuhan di Asahan yang Dikhawatirkan Akan Melukai0
- Ajang Kebangkitan, Suku Talang Mamak di Inhu Kembali Gelar Gawai Gedang 20180
- Atraksi Silat di Siak Sambut Kedatangan Rombongan Pertukaran Pemuda Indonesia-Australia0
- PN Bengkalis Surati Kejagung karena Tuntutan Tiga Terdakwa 55 Kg Sabu Tak Juga Dibacakan0
MIGASNEWS.CO, RIAU – Persoalan dana atas bagi hasil pengelolaan migas terus bergulir. Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA) Riau bersama Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Riau (FISIP Unri) menggelar diskusi. Keduanya sepakat mendorong penguatan tata kelola Participating Interest (PI) 10 persen sektor minyak dan gas bumi (migas) agar memberikan dampak lebih besar terhadap pengentasan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Dorongan tersebut disampaikan dalam kegiatan diseminasi hasil kajian bertajuk “Peningkatan Tata Kelola Participating Interest (PI) Sektor Migas untuk Pengentasan Kemiskinan dan Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat di Daerah Penghasil Provinsi Riau” di The Premiere Hotel Pekanbaru, Senin (10/8/2026) seperti dilansir cakaplah.com.
Koordinator FITRA Riau Tarmizi mengatakan, PI 10 persen merupakan peluang strategis bagi daerah untuk memperkuat kapasitas fiskal melalui keterlibatan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dalam pengelolaan sektor migas.
Menurutnya, Riau sebagai salah satu daerah penghasil migas terbesar di Indonesia memiliki potensi ekonomi yang besar. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya berdampak terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat di daerah penghasil.
"Hasil kajian melihat masih ada sejumlah tantangan dalam pengelolaan PI, seperti belum optimalnya transparansi dan akuntabilitas, belum jelasnya mekanisme distribusi manfaat kepada masyarakat, serta belum terintegrasinya PI dengan program pembangunan daerah," kata Tarmizi.
Ia menyebut, kondisi fiskal daerah yang semakin terbatas akibat penurunan dana transfer dari pemerintah pusat membuat optimalisasi sumber pendapatan daerah menjadi penting. Salah satunya melalui pemanfaatan PI migas secara tepat sasaran.
FITRA menilai pengelolaan PI perlu bergeser dari sekadar mengejar pendapatan daerah (revenue oriented) menjadi instrumen pembangunan yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat (development oriented).
Beberapa rekomendasi yang disampaikan dalam kajian tersebut di antaranya penguatan regulasi daerah, peningkatan tata kelola BUMD, penerapan mekanisme penggunaan dividen PI untuk program prioritas, peningkatan transparansi, serta memastikan manfaat PI dirasakan masyarakat di daerah penghasil migas.
"Kita ingin PI tidak hanya menjadi tambahan pendapatan daerah, tetapi menjadi instrumen untuk mengurangi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat," cakapnya.
Sementara itu, Kepala Bappeda Riau, Purnama Irawansyah mengatakan Pemerintah Provinsi Riau terus mengoptimalkan pengelolaan PI 10 persen sejak 2023 untuk mendukung berbagai program prioritas daerah.
Ia berharap nilai PI dapat lebih stabil dan tidak mengalami penurunan seperti Dana Bagi Hasil (DBH) migas.
"Bagaimana PI bisa menurunkan kemiskinan, data kita menunjukkan sudah terjadi penurunan kemiskinan pada 2026 dibanding tahun sebelumnya. Namun kita tetap menerima masukan dari berbagai pihak untuk memaksimalkan potensi pendapatan daerah," ujarnya.
Kegiatan diseminasi tersebut melibatkan pemerintah daerah, DPRD, BUMD, akademisi, pelaku industri migas, organisasi masyarakat sipil, serta pemangku kepentingan lainnya.
Melalui forum tersebut, FITRA dan FISIP Unri berharap terbangun komitmen bersama untuk menciptakan tata kelola PI migas yang lebih transparan, akuntabel, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Riau. (HFS/SP)





