Timur Tengah

Harga Minyak Naik 1,44 Persen Akibat Iran Belum Mau Buka Selat Hormuz

Internasional Senin, 10 Agustus 2026 - 08:38 WIB
Harga Minyak Naik 1,44 Persen Akibat Iran Belum Mau Buka Selat Hormuz

Iran menyatakan kesepakatan dengan Oman untuk menetapkan jalur pelayaran baru di selat strategis tersebut telah memasuki tahap akhir. Namun, Teheran menegaskan masih ada sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi Amerika Serikat (AS) sebelum Selat Hormuz dibuka kembali.

MIGASNEWS.CO, INTERNASIONAL - Harga minyak mentah dunia kembali menguat pada perdagangan Senin (10/8/2026) di tengah ketidakpastian mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz.

Iran menyatakan kesepakatan dengan Oman untuk menetapkan jalur pelayaran baru di selat strategis tersebut telah memasuki tahap akhir. Namun, Teheran menegaskan masih ada sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi Amerika Serikat (AS) sebelum Selat Hormuz dibuka kembali.

Harga minyak Brent berjangka naik US$ 1,20 atau 1,44% menjadi US$ 84,79 per barel. Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) AS naik US$ 1,12 atau 1,08% menjadi US$ 79,29 per barel.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan kesepakatan dengan Oman mengenai pengaturan jalur pelayaran baru di Selat Hormuz telah berada pada tahap akhir. Namun, kesepakatan tersebut belum berarti selat akan segera dibuka.

Menurut Araghchi, pembukaan kembali Selat Hormuz tetap bergantung pada pemenuhan sejumlah tuntutan Iran oleh AS. Kesepakatan Iran dan Oman nantinya akan mengatur jalur pelayaran yang digunakan setelah persyaratan tersebut dipenuhi dan lalu lintas kapal kembali dibuka.

Iran sebelumnya menegaskan pembukaan kembali Selat Hormuz tidak hanya bergantung pada pembicaraan dengan Oman. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan pembukaan selat tersebut bergantung pada kesediaan AS memenuhi persyaratan yang ditetapkan Teheran.

Sejumlah tuntutan Iran mencakup penghentian ancaman dan serangan militer, pencabutan sanksi AS, penghentian blokade terhadap pelabuhan Iran, pembebasan aset Iran yang dibekukan, serta kompensasi atas kerusakan akibat perang.

Iran dan Oman memang tengah membahas pengaturan jalur pelayaran baru di Selat Hormuz. Namun, Teheran memandang kesepakatan tersebut hanya mengatur mekanisme pelayaran dan tidak secara otomatis menyelesaikan persoalan yang lebih luas dengan Washington.

Ketidakpastian tersebut membuat aktivitas pelayaran di Selat Hormuz masih sangat terbatas. Sebelum konflik pecah, jalur perairan tersebut menjadi salah satu jalur utama perdagangan energi dunia, dengan sekitar seperlima pengiriman minyak dan gas alam cair (LNG) global melewati selat tersebut.

Karena itu, ketidakjelasan mengenai kapan lalu lintas kapal dapat kembali normal terus menjadi perhatian pelaku pasar. Sebelumnya, harga minyak sempat turun ketika pasar melihat peluang penyelesaian konflik semakin terbuka.

Namun, keraguan mengenai persyaratan pembukaan kembali Selat Hormuz kembali memberikan tekanan terhadap harga minyak. (HFS/INT)