- Antrean BBM Subsidi Terjadi di Kaltim, Pengamat Minta Pemerintah Buka Data Alokasi dan Distribusi
- Perkuat Kualitas Layanan Sektor Hilir Migas, BPH Migas dan Ombudsman RI Teken Nota Kesepahaman
- Irvan Nasir: Badan Usaha Khusus Migas, Jangan Cuma Ganti Baju
- Biodiesel B50 Sudah 94% di SPBU, Peneliti Kini Sedang Uji BBM Jenis E5
- Restorasi Lahan Kritis di Aceh Utara, PHE NSO Mengembalikan Jalan Pulang Gajah
- Minta Penjelasan SKK Migas, Plt Gubri Harap Transparansi Penghitungan PI 10 Persen WK Rokan
- Awasi Penyaluran BBM Subsidi, Pertamina Patra Niaga, Polda dan Pemprov Sumatera Barat Cek SPBU
- Sudah Ajukan Kuota BBM dan Belum Dijawab, Pemprov Riau Minta Tambahan 199 Ribu KL Pertalite-Solar
- Meski Antre di SPBU Meluas, Pemprov Riau dan Pertamina Pastikan Stok BBM Aman
- Pemprov Riau Usul ke PHR Perbaiki 10 Km Jalan Mahato Hingga Simpang Menggala Kabupaten Rokan Hilir
Restorasi Lahan Kritis di Aceh Utara, PHE NSO Mengembalikan Jalan Pulang Gajah
Program ini merupakan bagian dari upaya bersama untuk memulihkan ekosistem dan menjaga keanekaragaman hayati di lanskap Cot Girek, termasuk mendukung keberlangsungan ruang jelajah gajah.
Berita Populer
- Daftar Lengkap Jurusan yang Dibutuhkan TNI Terkait Rekrutmen Calon Perwira Prajurit Karir 2018
- Ikan Asin Bukan Makanan Orang Miskin
- Masalah Pribadi Jadi Alasan Siswa SMP di Pekanbaru Sayat Tangan, Bukan karena Minuman Energi
- Satu Situs KPU Kampar Diduga Diretas, Satu Lainnya Tidak Bisa Diakses
- Polisi Dumai Sita 5 Butir Ekstasi dari Kotak Rokok dan Ciduk Dua Pelaku
Berita Terkait
- Semarak Gelaran Funtastic Walk Pertamina 20180
- Ketinggian Air Capai 40 Sentimeter, Dua Desa di Kampar Riau Kembali Terendam Banjir0
- Tinggi Buka Pintu Pelimpah PLTA Koto Panjang Kembali Dibuka karena Elevasi Air Waduk di Atas Normal0
- Polisi Rohul Tembak Terduga Pelaku Pembunuhan di Asahan yang Dikhawatirkan Akan Melukai0
- Ajang Kebangkitan, Suku Talang Mamak di Inhu Kembali Gelar Gawai Gedang 20180
MIGASNEWS.CO, ACEH UTARA – Sebuah kepedulian untuk lingkungan. Gajah yang dahulu leluasa menyusuri lanskap Cot Girek, Aceh Utara, kini menghadapi tantangan semakin terbatasnya ruang jelajah. Menyempitnya kawasan hutan membuat habitat, jalur pergerakan, serta ruang mencari pakan gajah semakin beririsan dengan aktivitas masyarakat.
Kondisi tersebut mendorong berbagai pihak untuk memperkuat upaya konservasi sekaligus mengurangi potensi konflik antara manusia dan satwa liar. Pertamina Hulu Energi North Sumatra Offshore (PHE NSO) turut mengambil bagian melalui program berkelanjutan bersama Lembaga Pembelaan Lingkungan Hidup dan Hak Asasi Manusia (LPLHa), dengan fokus pada mitigasi konflik manusia dan satwa liar, pengembangan Biodiversity Camp Center, serta restorasi lahan kritis di Gampong Peureupok, Kecamatan Paya Bakong, Aceh Utara.
Program ini merupakan bagian dari upaya bersama untuk memulihkan ekosistem dan menjaga keanekaragaman hayati di lanskap Cot Girek, termasuk mendukung keberlangsungan ruang jelajah gajah. Selain kegiatan restorasi, para pihak juga telah menyusun peta jalan penyelesaian konflik manusia dan gajah sebagai acuan dalam pengelolaan kawasan secara berkelanjutan.
PHE NSO bersama para pemangku kepentingan juga telah meresmikan Biodiversity Camp Center pada akhir agustus lalu. Hal tersebut sebagai upaya memperkuat edukasi, pemantauan, serta kolaborasi konservasi di kawasan tersebut. Program ini melibatkan Pemerintah Kabupaten Aceh Utara, LPLHa, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), serta masyarakat di sekitar kawasan.
“Aspek kolaborasi sangat penting dalam upaya melakukan restorasi dan menjaga hutan. Masyarakat yang hidup berdampingan dengan kawasan hutan juga memiliki peran penting dalam memastikan perlindungan lingkungan,” ujar Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Sekretariat Daerah Aceh Utara, M. Nasir pada saat meresmikan Biodiversity Camp Center Agustus yang lalu di Gampong Peurupok, Kec. Paya Bakong.
Menurutnya, kawasan hutan tidak hanya menjadi habitat bagi berbagai jenis flora dan fauna. Akan tetapi juga merupakan bagian dari ruang kehidupan masyarakat.
“Kawasan ini bukan sekadar menjadi habitat berbagai satwa seperti gajah dan tumbuhan, tetapi juga ruang kehidupan masyarakat di lokasi. Karena itu, keseimbangan harus dijaga bersama,” ujar M. Nasir.
PHE NSO bersama LPLHa telah menginisiasi program tersebut sejak 2023. Berbagai kegiatan telah dilakukan, antara lain patroli dan mitigasi konflik manusia dengan satwa liar. Lalu, pengembangan Biodiversity Camp Center, serta kegiatan restorasi melalui penanaman pohon dengan melibatkan masyarakat dan petani lokal.
Dalam momen tersebut Field Manager PHE NSO Riski Kushardani juga menyampaikan bahwa keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam memastikan keberlanjutan program konservasi.
“Penanaman pohon merupakan langkah nyata untuk memperkuat pemulihan ekosistem dan menjaga habitat berbagai satwa di kawasan tersebut,” ujarnya.
Secara berkelanjutan, PHE NSO juga melakukan penanaman jenis pohon endemik yang dipilih secara khusus untuk mendukung keanekaragaman hayati di lanskap Cot Girek. Upaya tersebut diharapkan dapat membantu memulihkan habitat sekaligus mendukung ruang jelajah satwa liar, termasuk gajah.
“Pengelolaan keanekaragaman hayati tidak dapat hanya berfokus pada perlindungan satwa. Upaya tersebut juga harus berjalan seiring dengan perlindungan, keamanan, dan kesejahteraan masyarakat,” ungkap Riski.
Melalui kolaborasi antara pemerintah, perusahaan, lembaga konservasi, dan masyarakat, restorasi lanskap Cot Girek diharapkan tidak hanya menjadi upaya pemulihan lahan. Namun, membangun keseimbangan antara kelestarian ekosistem dan kehidupan masyarakat. (FSY/SP)





