Provinsi Riau

Memburuk, Kualitas Udara Pekanbaru Masuki Level Sangat Tidak Sehat Akibat Kabut Asap

Kesehatan Senin, 24 Agustus 2026 - 09:58 WIB
Memburuk, Kualitas Udara Pekanbaru Masuki Level Sangat Tidak Sehat Akibat Kabut Asap

Kualitas udara di Kota Pekanbaru, Riau, kembali memburuk pada Senin (24/8/2026) pagi. Konsentrasi partikulat halus atau PM2.5 terpantau mencapai 180,6 µg/m³ dan masuk kategori sangat tidak sehat.

MIGASNEWS.CO, RIAU – Bahaya kabut mulai mendera Riau. Kualitas udara di Kota Pekanbaru, Riau, kembali memburuk pada Senin (24/8/2026) pagi. Konsentrasi partikulat halus atau PM2.5 terpantau mencapai 180,6 µg/m³ dan masuk kategori sangat tidak sehat.

Berdasarkan pemantauan BMKG pada pukul 08.00 WIB, konsentrasi PM2.5 di Pekanbaru menunjukkan peningkatan cukup signifikan. Kondisi ini menjadi perhatian di tengah meningkatnya jumlah titik panas atau hotspot di sejumlah wilayah Riau.

Data BMKG menunjukkan kualitas udara Pekanbaru berfluktuasi sejak dini hari. Pada pukul 00.00 WIB, konsentrasi PM2.5 berada di sekitar 110 µg/m³ dan masuk kategori tidak sehat.

Memasuki pukul 01.00 WIB, konsentrasi PM2.5 melonjak hingga mendekati 170 µg/m³ atau masuk kategori sangat tidak sehat.

Kondisi sempat membaik pada pukul 02.00-03.00 WIB dengan konsentrasi berada di kisaran 70-90 µg/m³. Namun, kualitas udara kembali memburuk sekitar pukul 04.00 WIB dengan konsentrasi PM2.5 mencapai sekitar 175 µg/m³.

Pada pukul 05.00-06.00 WIB, konsentrasi PM2.5 turun ke kisaran 140-150 µg/m³ atau kategori tidak sehat.

Namun, kondisi kembali memburuk pada pagi hari. Pada pukul 07.00-08.00 WIB, konsentrasi PM2.5 kembali melonjak dan mencapai 180,6 µg/m³.

Kondisi tersebut membuat kualitas udara Pekanbaru berada pada kategori sangat tidak sehat.

PM2.5 merupakan partikulat berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan. Paparan dalam konsentrasi tinggi dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi kelompok rentan.

Masyarakat di Pekanbaru diimbau meningkatkan kewaspadaan, khususnya ketika melakukan aktivitas di luar ruangan. Penggunaan masker dan pengurangan aktivitas di luar rumah dapat menjadi langkah pencegahan ketika kualitas udara memburuk.

Kondisi ini juga perlu menjadi perhatian mengingat BMKG pada Senin (24/8/2026) mencatat 491 hotspot terdeteksi di Provinsi Riau, dengan konsentrasi tertinggi berada di Kabupaten Pelalawan sebanyak 239 titik dan Indragiri Hilir sebanyak 166 titik.

Peningkatan hotspot tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai dalam situasi kualitas udara Riau, terutama jika asap dari kebakaran hutan dan lahan terbawa angin menuju wilayah perkotaan.

Semai Garam untuk OMC

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau memanfaatkan peluang pertumbuhan awan untuk menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) guna membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Riau.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pemadam Kebakaran (Damkar) Riau M Edy Afrizal mengatakan, pelaksanaan OMC sangat bergantung pada ketersediaan awan yang dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan hujan di wilayah sasaran.

"OMC dilakukan berdasarkan kondisi awan. Kalau ada awannya, baru bisa kita lakukan," kata M Edy, Ahad (23/8/2026) kemarin.

Berdasarkan prakiraan cuaca, peluang pertumbuhan awan diperkirakan terjadi pada 23-24 Agustus dan masih berpotensi hingga sekitar 29 Agustus. Kondisi tersebut akan dimanfaatkan untuk mendukung operasi pemadaman dan penanganan karhutla.

"Tanggal 23-24 Agustus ada pertumbuhan awan, kemudian kosong, lalu sekitar tanggal 29 Agustus ada potensi pertumbuhan awan lagi. Kita manfaatkan itu untuk segera melakukan OMC," ujarnya.

Edy mengatakan, wilayah yang berpotensi mendapatkan pertumbuhan awan masih terus dipantau, terutama wilayah utara Riau. Keberadaan awan menjadi faktor penting untuk menentukan pelaksanaan penyemaian dalam operasi tersebut.

"Wilayahnya masih kita pantau, terutama di wilayah utara Riau. Kalau ada awan yang memungkinkan, kita lakukan OMC," jelasnya.

Untuk mendukung pelaksanaan OMC, BPBD Riau menyiapkan satu pesawat Cessna Caravan yang digunakan untuk penyemaian garam pada awan cumulonimbus.

Selain OMC, dukungan operasi udara juga tetap dilakukan melalui water bombing. Dari enam pesawat water bombing yang sebelumnya tersedia, dua di antaranya telah digeser untuk membantu penanganan karhutla di Kalimantan.

"Sekarang tersisa empat unit, tiga beroperasi dan satu maintenance," kata Edy.

BPBD Riau juga mengoperasikan dua helikopter untuk patroli. Seluruh dukungan udara tersebut dikoordinasikan dengan operasi darat untuk mempercepat penanganan karhutla.

Edy menegaskan, peluang pertumbuhan awan yang muncul akan dimanfaatkan semaksimal mungkin. Hal ini dilakukan mengingat setelah periode tersebut, pertumbuhan awan diperkirakan kembali berkurang.

Dengan strategi tersebut, Pemprov Riau berharap OMC dapat membantu meningkatkan potensi hujan dan mendukung upaya pemadaman karhutla yang dilakukan tim di lapangan.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau memiliki stok sekitar 110 ribu masker yang akan didistribusikan untuk membantu masyarakat menghadapi dampak asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau SF Hariyanto mengatakan, stok masker yang tersedia tersebut dapat langsung dimanfaatkan untuk membantu masyarakat di wilayah terdampak asap, khususnya Pelalawan.

"Hingga November nanti, diharapkan stok (masker) kita cukup. Saat ini tersedia 110 ribu," kata SF Hariyanto

Ia mengatakan, Pemprov Riau menyalurkan berbagai bantuan ke Pelalawan, pada Senin (24/8/2026). Bantuan tersebut tidak hanya berupa masker, tetapi juga obat-obatan dan kebutuhan kesehatan lainnya.

"Besok kita akan menyalurkan berbagai bantuan, termasuk masker dan obat-obatan untuk masyarakat dan tim pemadam yang bertugas di lapangan," ujarnya.

SF Hariyanto meminta stok masker yang ada segera disalurkan ke daerah yang membutuhkan, namun tetap memperhitungkan kebutuhan hingga beberapa bulan ke depan.

Selain mengandalkan stok yang tersedia, Pemprov Riau juga meminta dukungan tambahan dari pemerintah pusat. Dinas Kesehatan Riau telah bersurat ke pemerintah pusat untuk mengajukan bantuan guna memperkuat persediaan perlindungan kesehatan bagi masyarakat terdampak asap.

"Ini Dinas Kesehatan sudah bersurat juga ke Kementerian untuk mengajukan bantuan, Alhamdulillah direspons baik," katanya.

Langkah tersebut dilakukan sebagai bentuk antisipasi karena kebutuhan masker dan obat-obatan diperkirakan meningkat apabila sebaran asap semakin meluas. Bantuan juga diarahkan untuk mendukung tim pemadam yang masih bertugas di lapangan.

Selain masker, perhatian diberikan terhadap kebutuhan kesehatan kelompok rentan, seperti ibu hamil dan balita. (MNA/MCR)