Jakarta

SKK Migas Bidik Terobosan Baru, FOREK Hulu Migas jadi Arena Adu Strategi

Nasional Rabu, 21 Oktober 2026 - 09:27 WIB
SKK Migas Bidik Terobosan Baru, FOREK Hulu Migas jadi Arena Adu Strategi

Forum Ekonomi Hulu Migas (FOREK Hulu Migas) kembali digelar pada 2026.

MIGASNEWS.CO, JAKARTA - Setelah vakum sejak 2018, Forum Ekonomi Hulu Migas (FOREK Hulu Migas) kembali digelar pada 2026. Forum ini diharapkan menjadi wadah strategis untuk memperkuat sinergi pemerintah, SKK Migas, kontraktor kontrak kerja sama (KKKS), dan pelaku usaha dalam merumuskan langkah konkret menghadapi tantangan industri hulu migas nasional.

FOREK Hulu Migas 2026 dijadwalkan berlangsung pada 28–29 Oktober 2026 di Hotel Kempinski Jakarta. Penyelenggaraan forum tersebut menjadi momentum penting di tengah tantangan pencapaian target produksi dan lifting minyak nasional yang semakin kompleks.

Deputi Keuangan dan Komersialisasi SKK Migas, Desti Melanti, mengatakan penyelenggaraan kembali FOREK Hulu Migas didorong oleh kebutuhan untuk memperkuat komunikasi, kolaborasi, dan sinergi di antara seluruh pemangku kepentingan industri hulu migas.

Menurut Desti, peningkatan kebutuhan energi nasional harus diimbangi dengan kemampuan produksi dari wilayah kerja yang dikelola SKK Migas bersama KKKS.

“Kalau tidak sekarang, kapan lagi kita bersikap dan terus melangkah untuk memastikan kegiatan ini tetap bergulir,” katanya seperti dilansir ruangenergi.com

Desti mengungkapkan, industri hulu migas menghadapi sejumlah kendala yang berpotensi menekan pencapaian target lifting minyak nasional pada akhir 2026.

Pemerintah telah menetapkan target lifting minyak sebesar 610 ribu barel per hari (BOPD). Untuk mendekati target tersebut, SKK Migas bersama KKKS terus menyiapkan berbagai skenario baru guna mengoptimalkan produksi dalam sisa waktu tahun berjalan.

Tantangan tersebut semakin besar karena mayoritas wilayah kerja migas yang dikelola saat ini telah memasuki fase mature atau lapangan yang sudah berumur.

Kondisi ini membuat upaya menahan laju penurunan produksi alamiah (natural decline) menjadi pekerjaan besar bagi industri hulu migas.

Salah satu langkah yang terus didorong adalah meningkatkan kegiatan pengeboran secara masif, baik untuk mempertahankan produksi lapangan eksisting maupun membuka peluang penambahan produksi baru.

Aktivitas pengeboran juga diharapkan memberikan dampak berganda terhadap peningkatan investasi di sektor hulu migas.

Di tengah tantangan produksi, Desti menyampaikan bahwa penerimaan negara dari sektor hulu migas pada 2026 diproyeksikan mencapai lebih dari 109 persen dari target APBN.

Menurut dia, capaian tersebut turut didukung kenaikan harga minyak mentah di pasar global di tengah dinamika geopolitik internasional.

Namun, peningkatan harga komoditas bukan satu-satunya faktor penentu. Strategi komersialisasi yang dijalankan SKK Migas bersama KKKS, serta dukungan para pemangku kebijakan, juga berperan penting dalam mengoptimalkan penerimaan negara.

Karena itu, pengelolaan kegiatan hulu migas perlu semakin adaptif dan responsif terhadap perubahan kondisi pasar, tanpa mengabaikan akuntabilitas serta tata kelola yang baik.

Desti menegaskan, terdapat sejumlah agenda strategis yang perlu dikawal untuk memastikan industri hulu migas mampu memenuhi target produksi dan lifting nasional.

Pertama, kepastian hukum, investasi, dan fiskal harus diperkuat agar dapat meningkatkan kepercayaan investor. Kepastian tersebut dinilai penting untuk mendorong kegiatan eksplorasi dan penemuan cadangan baru yang menopang produksi nasional dalam jangka panjang.

Kedua, strategi komersialisasi perlu lebih adaptif. Pendekatan yang terlalu konservatif perlu dievaluasi agar berbagai skenario pengembangan lapangan dapat dipertimbangkan secara strategis dengan tetap memperhatikan optimalisasi penerimaan negara.

Ketiga, pembenahan tata kelola dan akuntabilitas harus dilakukan secara berkelanjutan dengan melibatkan berbagai pihak terkait, termasuk BPK, BPKP, satuan tugas, SKK Migas, KKKS, dan kementerian terkait.

Selain itu, skema pembiayaan yang tepat juga dibutuhkan untuk memastikan program pengembangan lapangan, pengeboran, dan kegiatan operasional dapat berjalan sesuai kebutuhan.

Desti menambahkan, upaya mendorong potensi sumber daya menjadi produksi nyata memerlukan stimulus fiskal yang menarik, peningkatan daya saing investasi, serta respons cepat terhadap kebutuhan industri.

Dalam penyelenggaraan FOREK Hulu Migas 2026, PT Pertamina Hulu Energi (PHE) turut memberikan dukungan terhadap upaya memperkuat kolaborasi antarpemangku kepentingan.

Desti menyampaikan apresiasi kepada Direktur Keuangan PHE, Bayu Kusuma Dewanto, yang dinilai merespons secara positif dan cepat terhadap inisiatif penyelenggaraan kembali forum tersebut.

Dukungan ini diharapkan memperkuat komitmen bersama untuk mencari solusi atas berbagai tantangan yang dihadapi industri hulu migas, terutama dalam meningkatkan produksi dan investasi.

Sementara itu, Chairperson FOREK Hulu Migas 2026, Nyimas Fauziah Rikani, diharapkan memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai profil, agenda, serta rangkaian kegiatan forum yang akan berlangsung pada 28–29 Oktober mendatang.

FOREK Hulu Migas 2026 diarahkan untuk menghasilkan tiga capaian utama.

Pertama, memperkuat sinergi dan kolaborasi antara pemerintah, SKK Migas, KKKS, serta pelaku usaha pendukung industri hulu migas.

Kedua, merealisasikan kebutuhan dan harapan para pemangku kepentingan melalui langkah-langkah konkret yang dapat mendukung peningkatan produksi dan investasi.

Ketiga, mendorong transformasi tata kelola industri hulu migas secara berkesinambungan agar lebih efektif, adaptif, transparan, dan akuntabel.

Kembalinya FOREK Hulu Migas setelah delapan tahun menjadi kesempatan untuk mempertemukan kepentingan berbagai pihak dalam satu agenda bersama.

Di tengah tantangan lapangan yang semakin mature, kebutuhan investasi yang besar, dan tuntutan peningkatan lifting minyak nasional, forum ini diharapkan tidak berhenti sebagai ruang diskusi, tetapi juga menghasilkan solusi yang dapat ditindaklanjuti.

Sebab, bagi industri hulu migas Indonesia, tantangan terbesar bukan sekadar menemukan potensi energi, melainkan memastikan potensi tersebut dapat dikembangkan menjadi produksi yang nyata dan memberikan manfaat optimal bagi negara. (FSY/SP)