Kolom Opini Oleh Nazaruddin Nasir

Pahlawan Migas yang Berdarah di Rumahnya Sendiri

Opini Jumat, 09 Oktober 2026 - 13:19 WIB
Pahlawan Migas yang Berdarah di Rumahnya Sendiri

Nazaruddin Nasir

Pahlawan Migas yang ''Berdarah'' di Rumahnya Sendiri

Kolom Opini Nazaruddin Nasir

MIGASNEWS.CO - Mari kita mulai dengan sebuah perayaan. Pekik “Swasembada Energi!” menggema dari mimbar-mimbar megah di Jakarta. Di bawah panji kepemimpinan baru yang gemar berbicara tentang kehormatan bangsa, ketahanan energi nasional diposisikan sebagai harga mati yang tak bisa ditawar.

Di Riau, mesin-mesin pompa angguk PT Pertamina Hulu Rokan dipaksa berdansa lebih cepat, menyedot isi bumi sedalam-dalamnya demi menopang syahwat APBN yang kian membubung. Teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR) digadang-gadang sebagai penyelamat kedaulatan, dan rilis pers penemuan cadangan baru disebar dengan nada penuh optimisme.

Namun, ketika Jakarta bersulang merayakan limpahan produksi, mari kita menengok ke halaman belakang rumah kita sendiri: Bumi Lancang Kuning sedang duduk di pojok ruangan, membalut lukanya yang menganga, sambil memandangi mangkuk anggaran yang kosong.

Eksploitasi tanpa ampun ini seolah mengulang kembali lembar demi lembar sejarah kelam yang tak pernah usai. Fakta sejarah mencatat bahwa takdir emas hitam Riau bukanlah sebuah ilusi, melainkan buah dari kemurahan hati sebuah peradaban besar.

Pada tahun 1930, Sultan Syarif Kasim II, Sultan Siak ke-12 yang visioner, secara resmi memberikan konsesi eksplorasi pertama di wilayahnya kepada Nederlandsche Pacific Petroleum Maatschappij (NPPM); cikal bakal raksasa Caltex yang kelak membawa Richard Hopper menemui sumur legendaris Minas dan Duri.

Ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, Sang Sultan tidak hanya menyerahkan kedaulatan, mahkota, dan uang tunai 13 juta gulden kepada Republik. Beliau dengan kebesaran hati seorang negarawan sejati menyerahkan tanah leluhurnya yang berlapiskan cadangan minyak terbesar di Asia Tenggara demi kelangsungan hidup bayi bernama NKRI. Sultan mengikhlaskan kekayaan Siak dikuras habis agar Jakarta punya modal untuk tegak berdiri.

Delapan dekade berlalu, dan bagaimana negara membalas warisan tulus Sultan Siak? Sungguh sebuah komedi satir yang ditulis dengan tinta minyak hitam.

Di tengah gegap gempita kenaikan target produksi, daerah penghasil migas terbesar di republik ini justru dihadiahi "surat pemotongan" anggaran massal. Alokasi Dana Bagi Hasil (DBH) migas untuk Riau disunat hingga tersisa angka-angka recehan yang menghina logika daerah.

Kabupaten Siak—tanah tempat istana sang pemberi konsesi berdiri kokoh—kini harus rela melihat porsi darah fiskalnya dipangkas drastis. Jatah DBH mereka diperas habis, menyisakan puluhan miliar yang bahkan mungkin tidak cukup untuk menambal jalan-jalan kabupaten yang hancur dilindas truk-truk raksasa pembawa minyak.

Di sinilah letak kejeniusan matematika pusat yang bernada magis: semakin tinggi minyakmu diperas, semakin lenyap uang bagi hasilmu. Formula perhitungan lifting di Kementerian Keuangan tampaknya dikunci di dalam kotak hitam yang lebih rahasia daripada kode nuklir.

Daerah penghasil diminta percaya begitu saja pada angka-angka sepihak, sembari dilarang mengintip bagaimana isi perut buminya dihitung di atas meja-meja ber-AC di ibu kota. Ketika pemerintah daerah berteriak mempertanyakan hak mereka, pusat hanya menyodorkan regulasi rumit yang intinya satu: daerah harus ikhlas menerima nasib.

Ironi ini kian terasa getir ketika kita melihat narasi prioritas nasional hari ini. Minyak dari bawah tanah Riau dikonversi menjadi angka-angka triliunan rupiah untuk membiayai program-program populis seperti Makan Bergizi Gratis bagi jutaan anak di seluruh penjuru negeri. Kita tentu sepakat bahwa anak-anak bangsa harus sehat.

Namun, ada harga mahal yang harus dibayar dari kemurahan hati yang dipaksakan ini. Anak-anak di desa-desa terpencil sekitar sumur minyak di Riau harus belajar di ruang kelas yang lapuk dan berjalan di atas aspal yang remuk, karena ruang fiskal pemerintah daerah mereka telah dibabat habis. Riau dipaksa menjadi ibu susuan yang menyusui seluruh negeri hingga dadanya kering dan berdarah, sementara bayinya sendiri menangis kelaparan di sudut kamar.

Lalu, apa yang ditinggalkan untuk Riau sebagai tanda terima kasih? Limbah.

Ketika minyak yang bersih dan bernilai tinggi mengalir mulus lewat pipa-pipa menuju kilang dan berubah menjadi devisa, Riau memikul beban eksternalitasnya sendirian. Sejak zaman dahulu ketika jalan-jalan koridor utama dibuka dengan cara menyiramkan minyak mentah ke atas tanah rawa, hingga era modern dengan limbah sisa operasi B3 yang mengendap, ampas-ampas industri ini tetap menjadi jatah tetap bagi masyarakat lokal. Kita adalah daerah yang menanggung polusi, tetapi dilarang menikmati porsi.

Ini adalah potret sempurna dari "Pahlawan Migas yang Berdarah di Rumahnya Sendiri". Riau dielu-elukan dalam pidato kenegaraan sebagai pahlawan kedaulatan energi, dipuji sebagai tulang punggung ekonomi nasional.

Namun, perlakuan yang diterimanya bak pahlawan yang habis manis sepah dibuang. Setelah energinya dikuras habis demi menyalakan lampu-lampu gemerlap di Jakarta dan mengenyangkan perut-perut di Jawa, ia dibiarkan merangkak dalam kegelapan fiskal.

Selamat atas suksesnya pemboran baru. Selamat atas kecanggihan teknologi EOR yang memukau itu. Riau ikut bangga, setidaknya dari balik jendela rumahnya yang retak, sembari bersiap menghirup sisa asap industri dan meratapi anggaran yang mati suri. ***

Nazaruddin, Pengamat Sosial di Riau dan mantan Praktisi Migas