- Ruang Setara, Meracik Harapan dan Energi Kemandirian Ekonomi Kaum Difabel, Laporan Fithriady Syam
- Siapkan Talenta Siap Kerja, PHR Perkuat Kompetensi Generasi Muda Riau Melalui Program Upskilling dan
- Menimbun BBM, Polda Riau Sita Gudang Solar Subsidi 1.400 Liter di Pekanbaru
- Polisi Amankan Truk dan 14 Jerigen Solar Subsidi di Garuda Sakti Kampar
- EMP Group Gelar Media Field Trip, Ajak Wartawan Jelajah Sejarah dan Perluas Wawasan di Batam
- Soal Penimbun BBM, Akademisi Unri Minta Polda Riau Usut Jaringan Hingga ke Pemodal
- Antrean Solar Menumpuk, Dinas Perhubungan Pekanbaru Instruksikan SPBU Tertibkan Kendaraan
- Menko Bahlil Pastikan Stok BBM Aman, Distribusi di Bali dan Jatim Berangsur Pulih
- Dari Lidi Sawit Menjadi Piring, Ibu-Ibu Melebung Merintis Usaha Bersama EMP Korinci Baru
- SKK Migas Bidik Terobosan Baru, FOREK Hulu Migas jadi Arena Adu Strategi
Ruang Setara, Meracik Harapan dan Energi Kemandirian Ekonomi Kaum Difabel, Laporan Fithriady Syam
Fithriady Syam, jurnalis suratkabargenta.id
Berita Populer
- Daftar Lengkap Jurusan yang Dibutuhkan TNI Terkait Rekrutmen Calon Perwira Prajurit Karir 2018
- Ikan Asin Bukan Makanan Orang Miskin
- Masalah Pribadi Jadi Alasan Siswa SMP di Pekanbaru Sayat Tangan, Bukan karena Minuman Energi
- Satu Situs KPU Kampar Diduga Diretas, Satu Lainnya Tidak Bisa Diakses
- Polisi Dumai Sita 5 Butir Ekstasi dari Kotak Rokok dan Ciduk Dua Pelaku
Berita Terkait
- Semarak Gelaran Funtastic Walk Pertamina 20180
- Ketinggian Air Capai 40 Sentimeter, Dua Desa di Kampar Riau Kembali Terendam Banjir0
- Tinggi Buka Pintu Pelimpah PLTA Koto Panjang Kembali Dibuka karena Elevasi Air Waduk di Atas Normal0
- Polisi Rohul Tembak Terduga Pelaku Pembunuhan di Asahan yang Dikhawatirkan Akan Melukai0
- Ajang Kebangkitan, Suku Talang Mamak di Inhu Kembali Gelar Gawai Gedang 20180
Ruang Setara, Meracik Harapan dan Energi Kemandirian Ekonomi Kaum Difabel
Laporan Fithriady Syam, suratkabargenta.id
Ini bukan tempat biasa. Perlu semangat kuat untuk mendatanginya. Saya pun begitu. Coba memberanikan diri beranjangsana. Tidak sendiri, tapi bersama Maisha Nur Zahira, seorang relawan disabilitas, mahasiswa Pendidikan Luar Biasa Universitas Negeri Padang (UNP) yang berlibur di Pekanbaru. Dari pojok ruangan, dari kejauhan, Boy Sujatra terlihat mahir memainkan alat pengaduk kopi, meracik kopi. Dia memang Barista. Kok tak berani mendekat?
Ternyata ini sebuah kegamangan dan saya terbawa perasaan. Lokasi ini bernama Ruang Setara. Sebuah UMKM yang dibina PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) khusus bagi penyandang disabilitas di Kota Bertuah Pekanbaru, Riau.
Ada empat orang difabel yang melakukan aktivitas. Usaha dalam bentuk kafe ini memang terbilang baru seumur jagung, open order 25 Juni 2026 lalu. Lokasinya di Jalan Abdullah Munsyi No 15, Kelurahan Cinta Raja, Kecamatan Sail Pekanbaru.
Untuk eksis di tengah ‘’gempuran’’ kafe dan coffeshop yang terus menjamur di Pekanbaru, bukan perkara mudah. Harus memiliki semangat, karakter yang kuat, pantang menyerah dan siap bersaing. Satu sisi memperjuangkan kemandirian disabilitas, di lain sisi ini bukan kerja yang ringan.
Bukan Perempuan Biasa
Imamil dan Liani. Dua sosok ini memang agak lain. Tiap hari, hampir 24 jam nonstop memantau dan mendampingi para penyandang disabilitas ini. Maklum, dengan keterbatasan yang ada, diperlukan pengasuh, memberikan motivasi dan penguatan usaha. Dari mereka, terselip banyak cerita tentang dinamika para penyandang disabilitas ini kala membaur satu dengan lainnya.
Imamil Husni, seorang wanita paruh baya. Dia ibu rumah tangga yang memang penyandang disabilitas. Tergabung di Himpunan Difabel Muhammadiyah (Hidimu). Sebuah organisasi yang memiliki banyak kegiatan sosial di Pekanbaru. Dia mendedahkan, memahami, mendampingi dan memberdayakan penyandang disabilitas selama ini.
‘’Terima kasih. Itu yang patut kami sampaikan ke managemen PHR. Bukan hanya dana, tapi juga ikut membantu memikirkan keberlangsungan hidup para disabilitas ini,’’ ujarnya dengan senyum sumringah.
Ditanyai motivasi membantu eksistensi kaum difabel di Riau ini, Imamil ternyata punya perjalanan nan berliku.
‘’Awalnya maju-mundur untuk membantu penyandang disabilitas ini. Kini saya melibatkan diri secara aktif untuk bisa memberi semangat. Bukan hanya sekedar ikut mendampingi, kini juga punya waktu lebih untuk bisa berupaya meningkatkan pendapatan mereka,’’ tambahnya sambil menjeling kepada empat pekerja disabilitas di Kafe Setara ini.
Dia juga bercerita panjang lebar tentang perjalanan dirinya untuk kembali ke Riau setelah merantau ke Tanjung Pinang, Provinsi Kepulauan Riau.
‘’Dulu saya coba bekerja di Tanjung Pinang. Tiba-tiba saya diminta pulang ke Pekanbaru. Ayah saya sakit. Dia terkena kanker paru. Saya sebagai anak bungsu, akhirnya luluh dan kembali dari perantauan. Sempat juga saya satu tahun merawat Ayah, Alhamdulillah,’’ katanya dengan suara yang tertahan.
Sepertinya dia sedang sedih, teringat kenangan bersama ayahanda di masa-masa tua, hingga berpulang ke pangkuan illahi pada 2023 lalu. Saya ikut terdiam, tak mau bertanya lebih, takut dia makin sedih.
Saya tahu, dia bukan perempuan biasa. Hampir setiap hari, Imamil menempuh puluhan km dari Tapung (Kabupaten Kampar) untuk mendatangi kafe di Gobah Pekanbaru ini. Hanya sekedar memastikan semua anak-anak disabilitas ini dan usaha mereka baik-baik saja.
Lain pula kisah Liani Rumondor. Wanita asal Manado ini punya motivasi berbeda menjadi pengasuh usaha.
‘’Ada sisi lain yang didapati dari membantu mereka. Saya bersyukur,’’ ujarnya pendek.
Dia menyebut butuh waktu untuk menjadikan penyandang disabilitas ini menjadi SDM yang handal.
‘’Mereka sudah dibekali dengan berbagai pelatihan. Tapi masih butuh waktu untuk berkembang. Kami juga membantu menciptakan suasana kerja yang baik. Jaga kebersamaan. Jangan kira, mulus-mulus saja. Banyak dinamika sesama mereka yang harus kita bantu. Cepat kita atasi,’’ lanjutnya.
Liani punya cerita yang mendalam terkait disabilitas rungu sejak 2006 lalu. Dia bukanlah seorang penyandang disabilitas. Jadi?
‘’Anak saya itu yang melatarbelakanginya. Dialah motivasi saya untuk ikut membantu teman-teman lainnya,’’ ujarnya sambil memandang Julio, anak laki-lakinya yang kini beranjak usia 27 tahun.
Ruang Setara, Energi Kemandirian Kaum Difabel
Sudah 18 menit, saya belum berani mendekati Boy Sujatra, sang barista disabilitas ini. Saya lihat sudah banyak gelas kopi yang dia racik untuk pelanggan. Petang itu, ada mahasiswa dan anak-anak muda belia yang datang ke Kafe Setara ini. Hati saya bergumam, apa yang mau dicakapkan? Apa dia paham? itulah beberapa ketakutan.
PHR menghadirkan Ruang Setara ini dalam bentuk sebuah Coffee, Social, and Study Space yang menjadi wadah pemberdayaan penyandang disabilitas melalui kesempatan kerja dan pengembangan usaha.
Lokasinya di tengah kota. Berdekatan dengan Kampus Pattimura Universitas Riau, Kampus Persada Bunda, MAN 2 Pekanbaru, SMAN 8 Pekanbaru, dan banyak perkantoran. Pendeknya, mudah dijangkau.
Peresmiannya dilakukan secara sederhana dengan memasangkan apron kepada seorang barista disabilitas. Ini sebagai simbol dimulainya peran aktif kaum difabel sebagai pelaku ekonomi.
Ruang Setara merupakan bagian dari Program Pemko Pesmina (Pemberdayaan Komunitas Penyandang Disabilitas Pertamina) yang bertujuan menghadirkan ruang inklusif, sekaligus membuka akses kerja dan kemandirian ekonomi bagi penyandang disabilitas.
Pemko Pesmina melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, SKK Migas, sekolah luar biasa (SLB), komunitas, hingga Koperasi Melangkah Bersama, Disabilitas Sejahtera ini.
Melalui program ini, 195 penyandang disabilitas Riau yang memperoleh manfaat dari pelatihan dan kesempatan menjalankan berbagai usaha produktif. Mereka dibekali keterampilan sebagai barista, pelaku usaha kuliner, pengelola layanan laundry sepatu, hingga terapis pijat tuna netra.
Kegiatan ditaja membangun ekosistem pemberdayaan yang menghubungkan pelatihan, operasional usaha, hingga pembentukan koperasi disabilitas.
Corporate Secretary PHR, Eviyanti Rofraida saat menghadiri ‘’Hari H’’ pembukaan usaha, menyebut program ini merupakan upaya mengubah paradigma pemberdayaan penyandang disabilitas agar tidak hanya memperoleh akses, tetapi juga kesempatan nyata untuk bekerja, berinteraksi, dan mandiri.
"Kami ingin memastikan bahwa inklusi tidak hanya berhenti pada akses, tetapi berlanjut pada kesempatan nyata untuk bekerja, berinteraksi, dan mandiri. Penyandang disabilitas bukan objek program, melainkan subjek yang berdaya dan berkontribusi," ujarnya.
Menurut Eviyanti, pengalaman berinteraksi menggunakan bahasa isyarat dalam aktivitas sehari-hari menjadi bagian penting untuk membangun empati masyarakat terhadap penyandang disabilitas.
"Inklusi perlu dirasakan, bukan hanya dibicarakan. Karena itu, kami mendorong interaksi langsung agar masyarakat melihat kemampuan, bukan keterbatasannya," tambahnya.
Apresiasi terhadap inisiatif ini juga disampaikan Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Provinsi Riau, Zulfadli. Dia menilai langkah PHR ini merupakan implementasi nyata Peraturan Daerah (Perda) yang mendorong perusahaan dan instansi memberikan kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas.
"Kami mengucapkan terima kasih. Pertamina Hulu Rokan telah mengimplementasikan amanat Perda Provinsi Riau Nomor 9 Tahun 2025. Melalui Kafe Ruang Setara, PHR telah melangkah lebih maju dalam membuka kesempatan kerja bagi teman-teman disabilitas. Ini menjadi contoh nyata bahwa dunia usaha dapat berperan aktif menciptakan lingkungan kerja yang inklusif," katanya.
Kolaborasi ini diharapkan menjadikan Ruang Setara sebagai model pemberdayaan penyandang disabilitas yang berkelanjutan. Sekaligus membangun lingkungan yang lebih inklusif, di mana setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk bekerja, belajar, dan berkembang.
Anak-anak Istimewa Ini Siapa yang Punya?
Dewan Pendidikan (Dewandik) Provinsi Riau, sebuah lembaga independen yang diberikan kewenangan Pemprov Riau untuk terus mengurusi eksistensi siswa didik di tingkat SMA, SMK dan SLB se-Riau.
Pemberdayaan penyandang disabilitas, khususnya tamatan dari Sekolah Luar Biasa (SLB) memang perlu langkah konkret. Ketua Dewandik Riau Prof Dr Junaidi SS Mhum, PhD menyebut dukungan kepada kaum difabel ini, haruslah berkelanjutan.
‘’Kita terus memberikan penguatan kepada mereka. Dengan cara mendatangi dunia usaha untuk menerima mereka untuk program magang, memberikan aspresiasi berbagai anugerah prestasi disabilitas, mewadahi kreatififas seni dan lomba akademik lainnya. Sebab satuan pendidikan seperti SLB, sekolah umum, atau kampus tiap tahun pula melahirkan tamatannya,’’ katanya.
Lebih jauh, dia menyatakan kemitraan dengan dunia usaha ini diharapkan mampu menjadikan mereka mandiri, secara ekonomi dan dunia kerja.
‘’Kami mengapresiasi gagasan ini. Ini sebuah jawaban atas problematika yang muncul tiap tahun. Saya yakin, bukan hanya disabilitas yang ada di usaha ini yang diberikan harapan. Sebab selama ini, juga sudah banyak pelatihan yang melibatkan penyandang disabilitas di Riau,’’ jelas Prof Junaidi yang juga Rektor Universitas Lancang Kuning (Unilak) ini.
Pertanyaan yang harus terjawab, mau dibawa kemana anak-anak istimewa atau sering juga disapa ‘’anak surga’’ ini?
Untuk tahu lebih jauh, saya pun mengunjungi SLB Negeri Pembina di Jalan Segar No 46, Kelurahan Rejosari, Kecamatan Tenayan Raya, Kota Pekanbaru, Riau.
Sekolah ini memiliki siswa yang paling banyak di Riau, lebih 300 orang dari berbagai tingkatan SD, SMP, dan SMA LB.
‘’Selama ini siswa yang selesai belajar SLB digabungkan ke UPT Daksa. Berbekal keahlian yang kita ajarkan. Memang diperlukan wadah untuk mengarahkan mereka,’’ kata Kepsek Moelya Eko Suseno, SKom, MTI, MPd.
Selain itu, Eko juga menyebut ada juga yang dibantu untuk melanjutkan ke tingkat perguruan tinggi.
‘’Memang ini tidak banyak, tapi selagi mereka mau dan berkeinginan belajar. Kita akan bantu. Apalagi Unilak menyiapkan beasiswa bagi mereka yang ingin kuliah. Selain itu, ada juga yang kita berdayakan di sekolah, membantu adek-adek kelasnya untuk bisa maksimal belajar,’’ lanjutnya.
Menguatkan anak-anak disabilitas ini, siapa yang punya kemauan mengurusnya, sesuai kewenangan pemerintah? Konfirmasi diberikan Kepala UPT Dinsos Riau Anahartini Ropaniputri, SE, MM.
‘’Sesuai data BPS terakhir, jumlah penyandang disabilitas di Riau ini mencapai 85.000 orang. Ada yang tergabung dalam 31 panti asuhan yang tersebar di seluruh daerah. Kami memberikan peluang seluas-luasnya kepada mereka untuk mandiri. Selama ini diberikan rehabilitasi dasar seperti bantuan makan, sandang dan pangan,’’ sebutnya.
Berbagai langkah dilakukan untuk hal itu. ‘’Yang ada di UPT kebanyakan dari disabilitas tuli dan daksa. Pelatihan kemandirian terus dilakukan, supaya mereka bisa melakukan interaksi sosial, bisa kembali ke masyarakat, dan bisa bekerja,’’ katanya.
Ana menyebut kini di UPT Daksa Dinsos Riau terdapat 36 orang dan 30 sudah mendapatkan skil.
‘’Kita juga terus bekerjasama untuk menyalurkan kemandirian mereka. Kini ada juga jaringan toko waralaba yang sedang kita proses untuk bisa menampung banyak penyandang disabilitas dalam bekerja,’’ sebutnya mencontohkan.
Anahartini, didampingi Asdes Comar, Kepala Seksi Pembinaan Sosial dan beberapa ASN di Dinsos Riau saat memberikan keterangan kepada awak media di Kafe Setara.
‘’Dengan program ini diharapkan ke depan dapat menambah kuota pembinaan bagi penyandang disabilitas lainnya. Terima kasih telah memberi kesempatan kepada anak-anak disabilitas sehingga memiliki aktivitas bermanfaat untuk kehidupannya,’’ sebut wanita berkaca mata ini.
Officer CID Zona Rokan South PHR, Lidia Sari memberikan penjelasan yang rinci. Dia mengatakan Kafe Ruang Setara menjadi bahagian pembinaan kelompok disabilitas yang dilakukan PHR. Kehadirannya menawarkan ruang yang tidak hanya ramah bagi penyandang disabilitas, tetapi juga menyediakan kesempatan bekerja, belajar, dan membangun usaha secara mandiri.
“Untuk tahap awal, kami baru membina Kafe Ruang Setara di Pekanbaru. Namun ke depan tidak tertutup kemungkinan PHR akan membina dan mendirikan kegiatan serupa di Duri maupun Dumai,” kata Lidia.
Dia mengatakan ruang pemberdayaan bagi penyandang disabilitas akan terus didorong agar mereka memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang dan berkarya. Memperluas ruang pemberdayaan masyarakat, termasuk bagi kelompok disabilitas, agar memiliki kesempatan yang setara untuk berkembang, berkarya, dan berkontribusi secara mandiri di tengah masyarakat.
Komitmen ini sesuai pula dengan harapan organisasi disabilitas. Aliansi Disabilitas Nasional (ADN) Provinsi Riau M Seldy Febryansah menyebut pemenuhan hak penyandang disabilitas di Provinsi Riau dinilai masih menghadapi berbagai tantangan, terutama dalam akses terhadap pelatihan kerja yang adaptif dan inklusif.
Keterbatasan tersebut dinilai menjadi salah satu faktor yang menghambat penyandang disabilitas untuk mencapai kemandirian ekonomi sekaligus memperoleh kesempatan yang setara di dunia kerja.
M Seldy mengatakan, persoalan kompetensi yang kerap dijadikan alasan belum optimalnya penyerapan tenaga kerja disabilitas harus dilihat secara lebih menyeluruh.
Menurutnya, jika penyandang disabilitas dinilai belum memenuhi kebutuhan industri, maka pemerintah dan dunia usaha juga harus memastikan tersedianya akses pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan dan ragam disabilitas.
"Sebagai aktifis yang bergerak di lapangan, saya melihat langsung betapa besarnya potensi dan tekad teman-teman disabilitas di Riau untuk berdaya. Kami tidak meminta keistimewaan, kami hanya menuntut hak yang setara, hak atas akses pelatihan kerja yang inklusif dan kesempatan kerja yang adil," urai Seldy kepada media.
Bantuan sosial, kata dia, memang tetap dibutuhkan dalam kondisi tertentu. Namun, pemberian keterampilan dan akses terhadap pekerjaan menjadi langkah penting agar penyandang disabilitas mampu mandiri secara ekonomi.
Menurut Seldy, pelatihan kerja yang masif dan disesuaikan dengan kebutuhan penyandang disabilitas dapat memberikan sejumlah dampak positif.
Di antaranya meningkatkan daya saing di pasar kerja melalui pelatihan digital marketing, administrasi komputer maupun keterampilan vokasi yang sesuai dengan kebutuhan industri.
Selain itu, keterampilan yang dimiliki juga dapat membuka peluang bagi penyandang disabilitas untuk membangun usaha secara mandiri.
"Ketika memiliki keterampilan yang teruji, teman-teman disabilitas tidak hanya menunggu untuk diterima bekerja di perusahaan, tetapi juga memiliki peluang untuk menjadi pelaku usaha dan menciptakan penghasilan sendiri," katanya.
Seldy menambahkan, kesempatan untuk bekerja dan memperoleh penghasilan juga berkaitan erat dengan kepercayaan diri dan martabat penyandang disabilitas sebagai bagian dari masyarakat.
Namun, dia mengakui masih terdapat sejumlah pekerjaan rumah yang harus diselesaikan pemerintah. Salah satunya adalah belum tersedianya kurikulum pelatihan yang benar-benar menyesuaikan dengan ragam kebutuhan penyandang disabilitas.
Di sisi lain, sinergi antara pemerintah, lembaga pelatihan, komunitas disabilitas dan dunia industri juga dinilai masih perlu diperkuat.
"Kita tidak bisa hanya memberikan pelatihan tanpa memikirkan ke mana setelah mereka selesai mengikuti pelatihan. Harus ada keterhubungan dengan dunia industri, dunia usaha dan peluang kewirausahaan," tegasnya.
Seldy berharap Pemerintah Provinsi Riau bersama pemerintah kabupaten/kota dan sektor swasta membangun sistem pelatihan kerja yang mudah diakses penyandang disabilitas.
Dia juga mendorong agar pusat-pusat pelatihan kerja ramah disabilitas dapat dikembangkan di seluruh daerah di Riau.
Jawaban Tak Terduga dari Bahasa Isyarat
Saya penasaran, ingin tahu bagaimana perasaan mereka dengan dukungan PHR ini. Saya dengan bantuan Maisha, Imamil dan Liani mendapat jawaban yang tak terduga.
Boy Sujatra (37) yang berprofesi sebagai barista dan juga kasir memulai cerita dengan asal sekolah. Pernah di SMA Luar Biasa (LB) Melati Rumbai Pekanbaru. Dia tampak tersenyum, saat ditanya-tanya seputar keluarganya.
Boy ternyata memiliki empat saudara. Dia bercerita dengan bahasa isyarat mengungkapkan rasa senangnya.
Sebelum ini, ternyata Boy sudah melanglang buana hingga Jakarta mencari kerja. Sudah mencoba beberapa pekerjaan, dan kini merasa cocok dengan usaha ini. Apalagi, dia sudah mendapatkan pelatihan barista.
Begitu juga dengan Cici Fitri Yenti (25) asisten kichen. Dia tinggal daerah di Kulim. Pernah bersekolah di SMA LB Negeri Pembina Pekanbaru. Dia memang suka masak dan merasa hepi dengan kondisi sekarang. Dia membantu Riyan (23) yang menjadi kichen utama di kafe ini.
Cici sebelumnya tergabung dalam Unit Pelayanan Terpadu (UPT) Daksa atau Perhimpunan Penyandang Disabilitas Daksa Pekanbaru.
Ada juga Reni Puspita (43) sebagai helper. Meski sudah berumur. Tapi dia senang ditanyai. Dia memang tidak memiliki pengalaman akademis yang cukup, tapi dia sigap dalam bekerja.
Dia pernah bersekolah sebentar di SD LB di Payakumbuh, Sumbar. Setelah itu, dia pun banyak menghabiskan waktu untuk mencari peluang kerja untuk bisa mandiri.
Ada lagi Cici Septiani (35) sebagai barista. Dia mengaku bersyukur mendapat kesempatan bekerja yang tidak hanya menjadi sumber penghasilan, tetapi juga membuka harapan untuk mewujudkan berbagai impiannya. Cici berharap Ruang Setara dapat menjadi jalan bagi lebih banyak penyandang disabilitas untuk berkarya dan mandiri.
Melihat pengakuan ini, saya lebih banyak mengangguk saja. Sebab kata Maisha, kalau tak mengerti bahasa isyarat, lebih baik memberikan ekspresi senang saja.
Terhadap para penyandang disabilitas sistemik rungu ini, PHR ternyata memberikan kecukupan dalam penghasilan.
‘’Mereka memperoleh pendapatan yang terbilang cukup. PHR membantu gaji mereka selama tiga bulan, lalu dianjurkan untuk mandiri. Sementara itu, untuk sewa tempat, PHR memberikan dukungan dua tahun lamanya. Soal peralatan dan perangkat kafe, semuanya dibantu,’’ ujar Imamil.
Ditanyai detail penghasilan para pekerja disabilitas ini, Liani terpaksa buka rahasia ‘’dapur’’. Dia menyebutkan bahwa supervisor usaha per-bulan mendapatkan Rp3,5 jt, kichen atau barista Rp1,8 jt, helper Rp1,5 jt.
‘’Ini menjadi tantangan bagi kami. Dituntut untuk mandiri setelah periode bantuan ini berakhir. Kami yakin bisa, sebulan operasional sekitar Rp17-18 jt,’’ ujarnya.
Gayung bersambut. Pengunjung kafe pun memberikan penilaian. ‘’Kopinya enak. Apalagi kalau melihat penyajian, sepertinya baristanya sudah terlatih. Suasananya kafe juga sudah baik, ada colokan HP, laptop atau sejenisnya. Kalau bisa dibuat ornamen untuk fhoto both, jadi bisa untuk dokumentasi, sekaligus bisa share di media sosial. Lalu, kalau bisa harga kopinya agak lebih murah,’’ sebut Muthia Annisa, mahasiswa Fakultas Ekonomi Unri tersenyum, lesung pipinya terlihat.
Perjalanan masih panjang. Pengelola dan pelaksana kafe ini masih harus berjibaku dan perlu kerja keras.
Apa yang diperoleh Imamil dan Liani? Keduanya saling tatap dan melempar senyum. ‘’Kami tidak menerima honor. Ini agaknya menjadi ladang pengabdian kami,’’ urainya.
Balik ke pangkal jalan. Dibanyak cabaran itu, apa yang sudah dimulai hari ini, tentu akan menjadi energi bagi masa depan penyandang disabilitas di Riau. Kafe Setara ini bukan hanya sekadar meracik kopi, dia merupakan ikhtiar untuk semangat kemandirian.
Sudah saatnya pendekatan terhadap penyandang disabilitas bergeser dari paradigma belas kasihan menuju pemberdayaan. Syabaas.***
Fithriady Syam, wartawan suratkabtagenta.id yang bermastautin di Pekanbaru, Riau.





