- BPH Migas Sebut Distribusi BBM Biodisel B50 Lancar, Pengguna Beri Tanggapan Positif
- Penentuan Harga BBM Nasional Digugat ke Mahkamah Konstitusi, Advokat Uji UU Migas
- Rapat di Komisi XII DPR-RI, BPH Migas Catat Konsumsi Solar Subsidi Naik 15,10 Persen
- Kebakaran Hutan dan Lahan Mendekati Sumur Minyak BSP, Bupati Siak Pimpin Pemadaman Hingga Tengah Mal
- Baru Delapan Hari Kabut Asap, 1.960 Warga Riau di 10 Kabupaten dan Kota Terpapar ISPA
- Sengketa Panjang, Blok Langgak Beralih dari BUMD Riau ke Kingswood Capital Limited
- Siaga 1 Api Karhutla Mendekat ke Sumber Migas, LNG Tangguh Tetap Beroperasi
- Memburuk, Kualitas Udara Pekanbaru Masuki Level Sangat Tidak Sehat Akibat Kabut Asap
- Karhutla Dekat Pipa Penyalur Minyak di Jambi, Berhasil Dipadamkan
- PHR Berdayakan Penyadang Disabilitas, Usaha Ruang Setara Diapresiasi Dewan Pendidikan Riau
Rapat di Komisi XII DPR-RI, BPH Migas Catat Konsumsi Solar Subsidi Naik 15,10 Persen
Pertumbuhan sektor produktif tersebutlah yang kemudian mendorong kenaikan konsumsi solar bersubsidi, selain disparitas harga dengan solar nonsubsidi.
Berita Populer
- Daftar Lengkap Jurusan yang Dibutuhkan TNI Terkait Rekrutmen Calon Perwira Prajurit Karir 2018
- Ikan Asin Bukan Makanan Orang Miskin
- Masalah Pribadi Jadi Alasan Siswa SMP di Pekanbaru Sayat Tangan, Bukan karena Minuman Energi
- Satu Situs KPU Kampar Diduga Diretas, Satu Lainnya Tidak Bisa Diakses
- Polisi Dumai Sita 5 Butir Ekstasi dari Kotak Rokok dan Ciduk Dua Pelaku
Berita Terkait
- Ketinggian Air Capai 40 Sentimeter, Dua Desa di Kampar Riau Kembali Terendam Banjir0
- Tinggi Buka Pintu Pelimpah PLTA Koto Panjang Kembali Dibuka karena Elevasi Air Waduk di Atas Normal0
- Polisi Rohul Tembak Terduga Pelaku Pembunuhan di Asahan yang Dikhawatirkan Akan Melukai0
- Ajang Kebangkitan, Suku Talang Mamak di Inhu Kembali Gelar Gawai Gedang 20180
- Atraksi Silat di Siak Sambut Kedatangan Rombongan Pertukaran Pemuda Indonesia-Australia0
MIGASNEWS.CO, BALI - Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) mencatat konsumsi solar bersubsidi naik hingga 15,10 persen pada Agustus 2026 yang disebabkan oleh kenaikan harga solar nonsubsidi dan peningkatan aktivitas logistik.
“Dari sisi monitoring penyaluran BBM untuk minyak solar, itu juga kenaikannya cukup signifikan,” ujar Kepala BPH Migas Wahyudi Anas dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR RI yang dipantau dari Badung, Bali, Rabu lalu.
Wahyudi menyampaikan rata-rata penyaluran solar subsidi atau biosolar sebelum terjadinya kenaikan harga solar nonsubsidi seperti Dex series adalah 50.624 kiloliter (KL) per hari. Akan tetapi, setelah harga solar nonsubsidi naik pada 18 April 2026, terjadi lonjakan rata-rata penyaluran biosolar.
Pada 18 April hingga 4 Mei 2026, konsumsi biosolar tercatat sebanyak 50.745 KL per hari, naik 0,24 persen dengan selisih 121 KL per hari apabila dibandingkan dengan rata-rata penyaluran biosolar sebelum kenaikan harga solar nonsubsidi.
Kemudian, pada Mei 2026, kenaikan konsumsi biosolar kembali terjadi, yakni sebanyak 52.685 KL per hari, naik 4,07 persen dengan selisih 2.061 KL per hari apabila dibandingkan dengan rata-rata penyaluran biosolar sebelum kenaikan harga solar nonsubsidi.
Tren kenaikan juga terus terjadi pada 1–10 Juni yakni 56.521 KL, naik 11,65 persen dibandingkan sebelum kenaikan harga solar nonsubsidi. Kemudian pada 10 Juni–1 Juli (56.827 KL, naik 12,25 persen); 1 Juli–1 Agustus (57.963 KL, naik 14,50 persen); serta rata-rata Agustus sebesar 58.271 KL (naik 15,10 persen).
“Kenaikan yang paling tinggi di bulan Agustus sebesar 15,10 persen. Ini khusus solar dan kami terus melakukan proses dalam rangka pemenuhan kebutuhan masyarakat secara baik, karena faktor ekonomi juga terjadi indikasi peningkatan,” ucap Wahyudi.
Wahyudi menyampaikan terdapat aktivitas logistik yang meningkat, baik ekspor maupun impor untuk didistribusikan kepada masyarakat.
Selain itu, lanjut dia, peningkatan penggunaan solar juga disebabkan kebutuhan sektor produktif.
“Sektor perdagangan tumbuh 6,39 persen year to date, serta akomodasi makan-minuman tumbuh 10,6 persen year to date, serta pertanian juga mengalami pertumbuhan 3,8 persen year to date,” kata Wahyudi.
Pertumbuhan sektor produktif tersebutlah yang kemudian mendorong kenaikan konsumsi solar bersubsidi, selain disparitas harga dengan solar nonsubsidi. (HFS/SP)





