- Ganguan Listrik Mulai Terjadi di Riau, Ini Kata PLN Soal Pemadaman Bergilir
- Gapai Mimpi dan Merangkai Senyum Anak-anak Yatim, PHR & KMMBS Salurkan 700 Paket Sekolah
- Anggaran Kompensasi Dievaluasi, Pemerintah Pastikan Harga BBM Subsidi Tak Naik Hingga Akhir 2026
- Kepala SKK Migas Djoko Siswanto: Doa 700 Sumur untuk PDSI & ADES
- Kementerian ESDM Proyeksikan BBM Bensin Bioetanol Berlaku 2027
- Kembangkan Potensi Talenta Muda dan Ekonomi Desa, EMP Bentu Dukung Turnamen Sepak Bola Buluh Nipis
- Ruang Setara, Meracik Harapan dan Energi Kemandirian Ekonomi Kaum Difabel, Laporan Fithriady Syam
- Siapkan Talenta Siap Kerja, PHR Perkuat Kompetensi Generasi Muda Riau Melalui Program Upskilling dan
- Menimbun BBM, Polda Riau Sita Gudang Solar Subsidi 1.400 Liter di Pekanbaru
- Polisi Amankan Truk dan 14 Jerigen Solar Subsidi di Garuda Sakti Kampar
Kementerian ESDM Proyeksikan BBM Bensin Bioetanol Berlaku 2027
Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, mengatakan persiapan teknis sedang dilakukan untuk menerapkan kewajiban pencampuran bioetanol ke dalam BBM.
Berita Populer
- Daftar Lengkap Jurusan yang Dibutuhkan TNI Terkait Rekrutmen Calon Perwira Prajurit Karir 2018
- Ikan Asin Bukan Makanan Orang Miskin
- Masalah Pribadi Jadi Alasan Siswa SMP di Pekanbaru Sayat Tangan, Bukan karena Minuman Energi
- Satu Situs KPU Kampar Diduga Diretas, Satu Lainnya Tidak Bisa Diakses
- Polisi Dumai Sita 5 Butir Ekstasi dari Kotak Rokok dan Ciduk Dua Pelaku
Berita Terkait
- Proses Perawatan, Sabtu Jaringan Operasi Gas Jargas Dihentikan Sementara0
- Pertamina EP Asset 1 Lirik Field Boyong Penghargaan Patra Nirbaya Karya0
- Wahyu Fadil SIK: PT SIK Kembangkan Rumah Subsidi di Pekanbaru0
- Garuda Indonesia Buka Rute Baru Pekanbaru-Batam Mengunakan Pesawat ATR 72-6000
- Rayakan Ulang Tahun Ke-5, Dafam Hotel Berikan Promo Menarik0
MIGASNEWS.CO, NASIONAL - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan penerapan bahan bakar minyak (BBM) jenis bensin yang dicampur 10 persen bioetanol atau E10 mulai berjalan pada 2027. Saat ini, pemerintah tengah mempersiapkan aspek teknis untuk mendukung penerapan kebijakan tersebut.
Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, mengatakan persiapan teknis sedang dilakukan untuk menerapkan kewajiban pencampuran bioetanol ke dalam BBM.
Menurut Eniya, salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah kesiapan bahan baku serta komitmen pemenuhannya dari dalam negeri.
"Tinggal nanti bahan bakunya komitmennya bagaimana, kita sekarang sedang mempersiapkan teknisnya untuk bisa ke arah mandatory. Selaras dengan itu memang sudah ada ketentuan di Permen bahwa bahan bakunya kan memang dari dalam, jadi nanti terkumpul berapa," kata Eniya di Jakarta, Senin (26/10/2026).
Eniya mengungkapkan, ketersediaan stok etanol atau bahan baku yang dibutuhkan untuk mendukung program tersebut saat ini masih terbatas. Stok yang tersedia tercatat baru sekitar 70.500 kiloliter (KL).
Sementara itu, pemerintah juga memiliki target pengembangan campuran bensin dengan bioetanol hingga 20 persen atau E20 pada 2028. Untuk mencapai target tersebut, kebutuhan etanol diperkirakan mencapai 400.000 hingga 500.000 KL.
"Karena kalau mau E20 di 2028 itu juga harus tambah banyak. Paling minimal itu kan kita perlu 400.000 KL, bertahap terus 500.000, naik-naik terus," ujarnya.
Untuk mendukung penerapan E10 pada 2027, pemerintah turut mendorong peningkatan kapasitas produksi etanol dalam negeri. Salah satu langkah yang disiapkan adalah pembangunan 11 pabrik etanol baru.
Eniya mengatakan, sejumlah rencana pembangunan pabrik tersebut masih dalam tahap persiapan, termasuk pembahasan nota kesepahaman (MoU) dan kepastian lahan.
"Kita sih menghitungnya sudah ada sekitar perencanaan 11 pabrik baru. Itu mau MoU, memastikan lahan dan lain sebagainya," jelasnya.
Selain membangun pabrik baru, pemerintah juga mendukung revitalisasi pabrik etanol yang sudah beroperasi. Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan produksi dan ketersediaan bahan baku untuk memenuhi kebutuhan pencampuran bioetanol dalam BBM.
"Tapi kalau untuk revitalisasi pabrik-pabrik yang lama kita sangat mendukung, pokoknya semua menghasilkan feedstock baru karena yang terkumpul hanya sedikit nih," tutup Eniya. (FSY/SP)





