- Batik Dumai Jadi Kebanggaan Daerah, Menenun Jejak Melayu dan Legenda Putri Tujuh
- Ini Detailnya, Pemerintah Pusat Pangkas DBH Migas se-Riau Rp907,5 Miliar Tahun 2027
- Secara Nasional, Kabupaten Bengkalis Peringkat Kedua Penerima DBH Minyak Bumi Terbesar di APBN 2026
- Penggelapan Solar Milik Perusahaan Sawit di Pelalawan, Tiga Pria Ditangkap Polisi
- Langka BBM Sebabkan Antrean SPBU di Bali Capai 1 Km, Ketua DPR RI Desak Pertamina Tambah Pasokan
- Sudah Dipasang Plang Sitaan oleh Kejati Riau, SPBU di Kampar Tetap Beroperasi
- Mata Kuliah CSR, Mahasiswa UIN Suska Pelajari Pengolahan Kotoran Sapi jadi Biogas di Desa Binaan PHR
- Hari Ini Kualitas Udara Pekanbaru Sangat Tidak Sehat, AQI Tembus 215
- Kejaksaan Tinggi Jambi Taja Seminar Nasional Ketahanan Energi dan Penegakan Hukum Migas
- Akibat Asap, Pagi Ini 12 Pesawat Gagal Terbang dan Mendarat di Bandara SSK II Pekanbaru
Batik Dumai Jadi Kebanggaan Daerah, Menenun Jejak Melayu dan Legenda Putri Tujuh
Di sebuah sudut Jalan Putri Tujuh, Kelurahan Teluk Binjai, Kecamatan Dumai Timur, benih perubahan itu ditanam pada tahun 2024. Melalui wadah Galeri Batik Dumai, sebanyak 15 warga lokal yang didominasi para ibu rumah tangga dirangkul untuk memulai langkah pertama.
Berita Populer
- Daftar Lengkap Jurusan yang Dibutuhkan TNI Terkait Rekrutmen Calon Perwira Prajurit Karir 2018
- Ikan Asin Bukan Makanan Orang Miskin
- Masalah Pribadi Jadi Alasan Siswa SMP di Pekanbaru Sayat Tangan, Bukan karena Minuman Energi
- Satu Situs KPU Kampar Diduga Diretas, Satu Lainnya Tidak Bisa Diakses
- Polisi Dumai Sita 5 Butir Ekstasi dari Kotak Rokok dan Ciduk Dua Pelaku
Berita Terkait
- Semarak Gelaran Funtastic Walk Pertamina 20180
- Ketinggian Air Capai 40 Sentimeter, Dua Desa di Kampar Riau Kembali Terendam Banjir0
- Tinggi Buka Pintu Pelimpah PLTA Koto Panjang Kembali Dibuka karena Elevasi Air Waduk di Atas Normal0
- Polisi Rohul Tembak Terduga Pelaku Pembunuhan di Asahan yang Dikhawatirkan Akan Melukai0
- Ajang Kebangkitan, Suku Talang Mamak di Inhu Kembali Gelar Gawai Gedang 20180
MIGASNEWS.CO, DUMAI, - Sesuatu yang berharga dilakukan Pertamina Hulu Rokan (PHR), khususnya dalam pemberdayaan masyarakat. Ada perasaan getir yang sempat mengendap di benak warga Kota Dumai. Sebagai wilayah yang berdiri di atas tanah kaya peradaban Melayu serta kental dengan ingatan kolektif legenda Putri Tujuh, Dumai sempat menghadapi tantangan tersendiri. Kota bersejarah di pesisir Provinsi Riau ini sebelumnya belum memiliki wastra khas yang menjadi identitas budaya daerah.
Perasaan cemas itu memuncak saat Hj Leni Rahmaini, SKM, menghadiri sebuah pertemuan lintas wilayah di Pekanbaru beberapa tahun silam. Riuh perwakilan kabupaten dan kota lain di Riau dengan penuh percaya diri memamerkan keindahan corak batik khas masing – masing daerah, Dumai hanya menjadi penonton. Ada rasa minder, canggung, sekaligus dorongan kuat dalam dada untuk mengubah keadaan. Kenapa Dumai yang kaya akan legenda tak mampu memiliki identitas wastranya sendiri?
Ogah membiarkan rasa gundah itu berlarut, Leni yang juga menjabat sebagai Ketua TP PKK Kota Dumai mengambil inisiatif berani. Dengan tekad dan kepedulian mendalam untuk mengangkat martabat daerah, beliau mulai menggalang potensi masyarakat setempat. Di sebuah sudut Jalan Putri Tujuh, Kelurahan Teluk Binjai, Kecamatan Dumai Timur, benih perubahan itu ditanam pada tahun 2024. Melalui wadah Galeri Batik Dumai, sebanyak 15 warga lokal yang didominasi para ibu rumah tangga dirangkul untuk memulai langkah pertama.
Langkah ini bukanlah perkara mudah. Sebagian besar warga yang bergabung awalnya tak pernah memegang canting, apalagi memahami seluk-beluk pelorotan lilin dan penguncian warna pada kain. Namun, modal utama mereka adalah semangat untuk belajar dan tekad membuktikan bahwa Dumai mampu melahirkan karya seni bernilai tinggi.
“Saat melihat daerah lain bangga memamerkan batik mereka, ada dorongan kuat di hati saya bahwa Dumai tidak boleh tinggal diam. Kita punya sejarah dan legenda Putri Tujuh yang begitu indah. Saya percaya, jika ibu-ibu di sini diberi kesempatan dan pelatihan yang tepat, jemari mereka pasti mampu menari di atas kain untuk melahirkan karya hebat yang mengangkat martabat,” kenangnya.
Para warga yang menjuluki diri mereka sebagai batikers ini mulai menempa diri secara konsisten. Mereka membenamkan diri dalam alur kerja yang membutuhkan ketelitian tinggi, kesabaran ekstra, serta ketahanan fisik. Setiap helai kain yang digarap melalui perjalanan panjang, mulai dari pemilihan bahan baku berkualitas, pembuatan pola, pencetakan motif tulis maupun cap, peracikan warna, penguncian warna agar tidak luntur, hingga tahap pelorotan, perendaman, penjemuran, dan pengemasan.
Inspirasi terbesar mereka berakar dari akar sejarah lokal. Khasanah cerita rakyat legenda Putri Tujuh dan kekayaan alam Melayu pesisir ditransformasikan ke dalam goresan motif yang eksklusif. Hingga saat ini, lebih dari 10 motif batik khas telah berhasil diciptakan dan dipatenkan sebagai kebanggaan Kota Dumai.
Hasil perjuangan tak pernah mengkhianati usaha keras warga. Jika dahulu Kota Dumai tak memiliki identitas batik sama sekali, kini dari ruang workshop Galeri Batik Dumai lahir sekitar 100 lembar kain batik berkualitas prima setiap bulannya. Rasa percaya diri para perajin yang mulanya ragu-ragu, kini bertransformasi menjadi kebanggaan yang meluap-luap.
Dampak dari gerakan kebudayaan ini terus meluas bagaikan gelombang di laut pesisir. Pasar Batik Dumai yang semula hanya menyasar warga lokal kini telah merambah luas ke kalangan Aparatur Sipil Negara (ASN), instansi BUMN/BUMD, lembaga pemerintah, hingga komunitas seni.
Keajaiban tidak berhenti di situ. Dengan ketekunan menjaga estetika serta kualitas pewarnaan, keindahan karya tangan para batikers Dumai menembus batas-batas negara. Kain buatan tangan warga Teluk Binjai ini telah melenggang di ajang peragaan busana bergengsi dunia, di antaranya Fashion Fest International Awards 2025 serta Bangkok Kids International Fashion Week 2025 di Thailand.
Melihat antusiasme pasar yang kian melonjak, para perajin tidak cepat berpuas diri. Kreativitas terus dikembangkan melalui diversifikasi produk. Batik Dumai tak lagi hanya dipasarkan dalam bentuk lembaran kain, melainkan diolah menjadi busana siap pakai (ready-to-wear), tote bag, alas meja, hingga suvenir unik yang bernilai ekonomi tinggi. Diversifikasi ini terbukti membuka peluang pasar yang jauh lebih luas sekaligus meningkatkan pendapatan ekonomi keluarga para perajin.
Keberhasilan perajin lokal Dumai untuk bangkit dan mandiri ini tak lepas dari proses belajar yang berkelanjutan. Pada rentang tanggal 8 hingga 12 September 2026, para perajin kembali mengikuti pelatihan bertajuk "Membatik Lanjutan". Dalam program ini, para batikers mendapatkan pendalaman materi intensif mengenai teknik pewarnaan lanjutan serta eksplorasi teknik variasi tambahan guna memperkaya kualitas visual produk.
“Batik Dumai di usia remaja ini saya rasa hal yang tidak bisa dilepaskan dari orang tuanya yaitu PT Pertamina Hulu Rokan. Harapannya kegiatan hari ini bukan menjadi langkah akhir, tapi merupakan langkah awal bagaimana nanti Batik Dumai kedepannya bisa lebih berkembang lagi,” ungkap Leni Rahmaini.
Pelatihan lanjutan yang menghadirkan instruktur profesional dari Yogyakarta ini merupakan bagian dari alur pendampingan berkesinambungan yang disokong penuh oleh program Community Involvement and Development (CID) PT Pertamina Hulu Rokan (PHR). Sejak dimulainya pembentukan galeri pada 2024, dilanjutkan dengan penguatan sarana dan prasarana produksi pada 2025, hingga pelatihan teknik lanjutan di tahun 2026, kemitraan strategis ini memosisikan PHR sebagai sahabat pendukung yang hadir memperkuat kapasitas dan kemandirian warga dari belakang layar.
Sinergi antara kegigihan warga, dorongan Pemerintah Kota Dumai, dan dukungan berkelanjutan dari PHR bahwa komitmen terhadap pelestarian budaya lokal mampu menggerakkan roda ekonomi kerakyatan secara nyata. (MNA/SP)





